Anarkis dan Kebenaran

0

Atah Roy memahami bahwa setiap manusia memiliki jiwa pemberontak. Selain itu, Atah Roy juga menyakini bahwa kadar pemeberontakan dalam diri manusia itu berbeda-beda. Berdasarkan pandangan inilah, Atah Roy tidak terlalu terkejut menyaksikan peristiwa yang terjadi di negeri ini lewat televisi atau membaca koran dan majalah tentang bermacam-macam ekspresi perlawanan. Menurut Atah Roy, perlawanan selalu datang dari rasa tidak puas, dan ketidakpuasan akan selalu melahirkan kata anarkis. Namun Atah Roy belum mampu membongkar kata anarkis itu ditujukan kepada siapa. Sama juga kata durhaka. Ketika Hang Jebat melakukan perlawanan terhadap Sultan Mahmud yang menjatuhkan hukuman pancung kepada Hang Tuah. Hang Jebat dikatakan durhaka, melakukan perlawanan terhadap sultan, tapi apakah sultan tidak melakukan perdurhakaan dengan tindakan yang sewenang-wenang?

Atah Roy menarik nafas panjang, kemudian ia melepaskannya secara perlahan-lahan. Kata anarkis menjadi seperti peluru yang menyelinap masuk ke benak Atah Roy. Anarkis itu melahirkan kerisauan yang mendalam di hatinya. Tiba-tiba Atah Roy teringat Leman Lengkung, anak saudaranya, yang sejak pagi tadi pergi bersama kawan-kawannya melakukan perlawanan terhadap perusahaan yang menolak memperkerjakan pemuda-pemuda kampung. Atah Roy takut Leman Lengkung dicap melakukan anarkis. “Bukankah selama ini, anarkis selalu “ditempelkan” pada rakyat jelata,” bisik Atah Roy dalam hati.

Atah Roy gelisah. Berkali-kali ia masuk kamar dan berkali-kali pula ia berdiri di pintu masuk rumahnya, sambil memandang ke arah jalan. Untuk menetralkan rasa cemasnya, Atah Roy duduk di kursi tamu kayu yang dibuat 3 tahun lalu. Biasanya Atah Roy selalu mendapat ilham ketika duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pintu, tapi kali ini tidak. Wajah Leman Lengkung dan kata anarkis terus bermain di pikiran Atah Roy. Atah Roy teringat cerita Hang Tuah, dan Atah Roy juga terbayang Megat Seri Rama menikam sultan yang sedang dijulang. Megat Seri Rama menikam sultan itu, karena sultan tanpa rasa iba membelah perut istrinya yang sedang hamil tua. Perbuatan istri Megat memakan seualas nangka milik sultan tak sepadan hukuman yang diterima. Padahal waktu itu, Megat Seri Rama sedang berjuang di laut mengusir lanun-lanun demi keamanan kerajaan. “Membela kepentingan masyarakat, terkadang dipandang tidak berarti apa-apa, apabila berlawanan dengan kehendak kekuasaan,” ujar Atah Roy.

Leman Lengkung belum juga terlihat batang hidungnya. Kata anarkis semakin menjadi-jadi meneror Atah Roy. Atah Roy berdiri, lalu berjalan ke pintu rumahnya. Lihat kiri dan kanan jalan, belum juga terlihat sosok Leman Lengkung. Atah Roy berjalan masuk kamar, kemudian keluar dan kembali ke pintu. Tidak juga terlihat Leman Lengkung, lalu Atah Roy kembali berjalan ke kursi dan duduk di kursi itu. Kata anarkis di benaknya seakan memerintah Atah Roy menjadi orang gila; gila terhadap situasi yang mencemaskan ini. Dalam keadaan cemas, Atah Roy melihat majalah budaya. Di sampul majalah itu tertulis kalimat “Anarkis Itu Mati Kebetulan”. Karya Dario Fo, orang Italia penerima anugrah Nobel tahun 1997, itu sudah lima kali dibaca Atah Roy. Naskah drama panjang yang tokoh utamanya orang gila, menyamar jadi Hakim Agung, menyamar menjadi Kepala Laboratorium Kriminal, menyamar menjadi Uskup Agung Vatikan. Dari tokoh orang gila ini, terbongkarlah pernyataan kebohongan polisi, menelanjangi kolusi antara hakim, jaksa, wartawan dan
pemuka agama dalam menutupi kebenaran. Kebenaran yang di bawa orang gila ini apakah akan menjadi anarkisme?

Atah Roy semakin menjadi “gila” menunggu Leman Lengkung, dan kata anarkis di benak, tidak mau diajak kompromi untuk sesaat menenangkan Atah Roy. Atah Roy diajak mengarungi laut kecemasan yang tidak bertepi. Atah Roy takut perjuangan Leman Lengkung dan kawan-kawannya untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat di kampung direkayasa. Rekayasa merupakan mesin yang sangat ampuh melumpuhkan perjuangan. Perjuangan yang murni untuk kepentingan rakyat, akan menghasilkan kedurhakaan atau pun anarkisme, setelah diolah oleh mesin rekayasa. Masyarakat pun dipaksa mempercayai hasil dari mesin rekayasa dan menganggap Leman Lengkung dan kawan-kawan pemberontak.

“Leman, walaupun dikau selalu melawan aku dan mengamuk di rumah ini, tapi aku tak pernah menganggap dikau pemberontak yang anarkis. Aku tahu, tak ade manusie yang sempurne. Dan aku tahu juge, perlawanan yang dikau lakukan di rumah ini, disebabkan kesalahan aku. Aku selalu megekang dikau,” Atah Roy berbisik dalam hati. Mata Atah Roy mengeluarkan air. Rasa kasih sayang rupanya selalu datang ketika jarak menjelma.

Lama Atah Roy terdiam sambil mengusapkan air mata yang mengalir di pipinya. Kecemasan Atah Roy melahir kesedihan.

“Assallammualaikum,” suara salam menyentak Atah Roy. Di pintu rumahnya berdiri sosok yang selama ini pengisi hidup Atah Roy. Atah Roy tercengang. Percaya dan ketidakpercayaan saling berlomba mendahului pikiran Atah Roy.

“Ngape Atah neguk aku macam nenguk hantu, je?”

Atah Roy berdiri dari kursinya dan langsung berlari memeluk orang yang berada di hadapannya. Atah Roy tak mampu menahan kecemasannya lagi, ia pun melepaskannya dengan menangis dalam pelukan orang tersebut.

“Ngape Atah nangis ni? Macam budak kecik,” ujar orang itu.

“Alhamdulillah, tak terjadi ape-ape kepade dikau,” Atah Roy semakin kuat memeluk anak saudaranya itu.

“Terjadi ape pade diri saye, Tah?” tanya orang itu yang tak lain tak bukan adalah Leman Lengkung, anak saudara Atah Roy.

“Aku sangke akan terjadi hal-hal yang tak dikehendaki terhadap dikau,” Atah Roy perlahan-lahan melepaskan pelukannya, setelah dia yakin betul yang dipeluknya adalah Leman Lengkung.

“Rupenye sayang juge Atah kepade saye, ye?”

“Air dicencang tak akan putus, Man. Dikau nilah satu-satunye anak saudare aku,” balas Atah Roy. “Ape mike buat di perusahaan tu tadi?” Atah Roy ingin mengikis kerisauannya.

“Kami diajak makan oleh pembesar perusahaan, Tah. Bukan main sedap masakan orang tu Tah. Ade sate ruse juge Tah,” jelas Leman Lengkung.

“Celake punye budak! Awak menunggu di rumah ni macam nak gile, die sedap-sedap makan di perusahaan itu! Ade dikau bawak sate ruse untuk aku?”

“Manelah ade, Tah. Jangankan sate, kuah sate pun licin kami hembat.”

“Budak bedebah betul! Dahlah, malas aku nenguk muke dikau ni! Lantaklah situ, nak anarkis, nak durhaka, terserah dikaulah!” kate Atah Roy langsung pergi masuk ke kamarnya.

“Eeeee… orang tue ni, tibe-tibe je kasih sayang berubah jadi kebencian,” ucap Leman Lengkung pelan.n

Hang Kafrawi adalah Pemimpin Redaksi RiauKepri.com. Selain itu Hang Kafrawi juga Ketua Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.