Belajar Rukun ke NTT

0

Ikan selais dibeli di Melaka/ dibeli sedikit buat hadiah/ faham teroris mari perangi bersama/ demi damai dan sejahteranya Indonesia kita.

Ketika di Jakarta suhu politik memanas dan jalinan kasih anak negeri agak tercabik karena isu SARA, di Kupang, pemerintah dan tokoh agama Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan silaturrahmi dan dialog kerukunan umat beragama bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat Provinsi Riau. Sebagaimana dimaklumi, NTT mayoritas berpenduduk Kristiani sedangkan Riau mayoritas berpenduduk muslim.

Suasana pagi Selasa (14/2/2017) di aula Gubernur Nusa Tenggara Timur begitu hangat dan akrab ketika kafilah dari Riau disambut dengan keramahan dan kesantunan ala NTT. Gubernur NTT Frans Lebu Raya membuka acara dengan suasana yang amat bersaahabat dan diselingi dengan pantun, lalu menyilahkan rombongan dari Kanwil Kemenag Riau menympaikan hajat hati datang Ke NTT. H Ahmad Supardi ssebagai Kakanwil kemenag Riau yang sekaligus ketua kafilah pun menyampaikan kondisi kerukunan umat beragama di Provinsi Riau, serta menyampaikan serba sedikit tentang Riau, dan segala sesuatu yang pernah disumbangkan Riau untuk merekat persatuan dan kesatuan Negara Indonesia, termasuk sumbangan bahasa Melayu yang menjadi bahasa Indonesia.Selain itu ia juga menyampaikan hajat hati datang ke NTT, yang antara lain bermaksud untuk belajar menata umat agar saling kasih, rukun dan memelihara kedamaian.

Menurut Kakanwil Kemenag Riau, kedatangan ini bukan tanpa alasan, karena NTT pada tahun 2015 dinobatkan Menteri Agama RI sebagai daerah percontohan kerukunan umat secara nasional. Bahkan pada tahun 2008, Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun datang ke Kupang dalam rangka meresmikan Gong Perdamaian yang terletak di taman nostalgia Kupang. Di mana gong tersebut konon mendapat peneguhan sebagai kota “kasih” serta memberi dorongan menuju perdamaian abadi. Pun rombongan Kanwil Kemenag Riau juga ingin melihat dan merasakan sendiri bagaimana rasa dan perisa alam NTT di mana dulu proklamator RI, Soekarno pernah tinggal dan menetap yang melahirkan butir-butir Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Selain itu ingin pula melihat Pulau Komodo sebagai pulau purba, di mana kabarnya semasa meletusnya gunung Tambora ribuan tahun lampau, hanya pulau komodolah yang selamat dari bencana besar tersebut.

Gubernur Frans Lebu Raya pun menyampaikan segala ihwal tentang Nusa Tenggara Timur. Menurut Gubernur, yang paling berperan dalam menjaga dan memilhara kerukunan umat beragama di NTT adalah kearifan lokal yang telah diwariskan nenek moyang sejak dulu kala, bahwa di NTT semangat dan rasa kekeluargaan mengatasi segala apapun di dunia ini. Di NTT, umat Kristiani dengan suka cita membangun masjid secara bersama-sama. Pun begitu pula umat muslim, mereka juga berpartisipasi aktif membantu pendirian gereja. Di NTT, dalam satu keluarga terdapat berbagai penganut agama, seperti ada yang kristiani dan ada pula yang muslim. Jadi mereka pun sering melakukan perayaan hari-hari besar agama secara bersama.

Selain itu, pemerintah daerah tak bosan-bosannya melakukan berbagai komunikasi dan kemitraan melalui dialog-dialog, seperti dialog pemerintah daerah dengan lembaga-lembaga keagamaan, dialog kerukunan lintas agama, dan dialog pemuda (Daratan Timor, Alor, Rote Ndao, dan Shabu Rai Jua, Daratan Flores serta Daratan Sumba. Selain itu juga, pemerintah daerah mendukung kegiatan kerohanian melalui fasilitasi kegiatan-kegiatan kerohanian seperti Natal dan Paskah Oukjumene, ziarah rohani, Pekan Orang Muda Katolik dan Sekami, Pekan Suci Larantuka, Pesparawi, Pawai Paskah, STQ dan MTQ, Halal bihalalal, urusan haji, Utsawa Dharmagita dan lain sebagainya.

Lebih lanjut Gubernur NTT menyampaikan, bahwa Pemda NTT terus memberikan Bantuan Hibah dan Bantuan Sosial bagi masyarakat. Pada tahun 2017, menurutnya bantuan hibah keagamaan mencapai Rp 4.515.000.000,-. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan sarana ibadah, pemberdayaan ekonomi umat, dan oraganisasi keagamaan.

Kegiatan yang dilakukan oleh Gubernur NTT dan Rombongan Kanwil Kemenag Riau ini patut dicontoh oleh sebagian daerah di Indonesia, termasuk DKI Jakarta agar suasana yang harmonis dapat tercipta kembali di ibu kota. Akhir-akhir terlihat fenomena agak memprihatinkan di Negara kita, terutama yang terjadi di ibu kota negara. Jalinan kasih penuh harmonis sedikit terusik akibat ulah sebagian orang. Kenyataan itu tentu saja sangat disayangkan karena kita amat mencintai negera ini. Negeri di mana kita lahir, di mana kita juga mati dan ditanam suatu hari nanti. Untuk itu, tekad kita untuk memelihara, menjaga, merawat dan mempertahanakan Indonesia menjadi tekad bersama agar kita dapat melihat Indonesia yang makmur, sejahtera di masa depan. Kita sangat menyadari, bahwa negeri ini bukan saja titipan nenek moyang kita tapi juga warisan dari dan untuk anak cucu kita di belakang hari nanti.

Suasana damai dan saling menghormati yang dirasakan Gubernur dan rombongan Kanwil Kemenag Riau rasakan saat ini merupakan suasana damai dan penuh kerukunan. Untuk itu, sesungguhnya menjadi cita-cita kita semua untuk menciptakan suatu tata dunia yang damai, adil dan harmonis. Dunia yang bebas dari konflik, kekerasan, penindasan dan peperangan. Dalam suasana seperti itu, umat manusia hidup penuh persaudaraan, saling mencintai dan bersama-sama berbuat kebajikan, demi kebahagiaan umat manusia. Inilah cita-cita kemanusiaan kita yang hakiki, dan yang selalu kita junjung dan kita perjuangkan. Kita harus sadari, bahwa Indonesia ini adalah negeri yang majemuk terdiri dari berbagai suku, agama, etnis, bahasa dan budaya. Tidak ada cara lain untuk menghadapi kemajemukan itu kecuali dengan membangun kebersamaan, saling menghormati serta saling menghargai perbedaan masing-masing. Indahnya pelangi karena banyak warna.

Kemajemukan bangsa harus kita sikapi dengan penuh rasa syukur. Keragaman yang kita miliki harus kita terima sebagai anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa. Dengan demikian kesadaran akan pluralitas itu pada akhirnya akan menyadarkan kita untuk selalu menciptakan kedamaian di muka bumi untuk menjadikannya sebagai tempat yang layak dihidupi secara bersama, yang dijaga dan diselamatkan pula secara berjemaah.***

Griven H. Putera

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.