Kisah Buruk Ikan Terubuk

0
Ikan Terubuk

Bengkalis, kronline.co — Ikan Terubuk, ikan yang menjadi ikon Bengkalis dari masa ke masa populasinya semakin berkurang, bahkan telah menjelang kepunahan. Sangat memungkinkan Ikan Terubuk ini nantinya hanya tinggal sebutan dan hanya menjadi gambar yang menempel pada lambang Kabupaten Bengkalis sahaja. (baca juga halaman 4 dan 5)

Ikan Terubuk Bengkalis yang berspisies “Tenualosa Macrura” ini adalah diantara lima spesies ikan Terubuk yang ada di dunia. Sebelum kemerdekaan Indonesia sampai tahun 1950an, daerah ini sangat terkenal sebagai penghasil komoditi ikan terubuk ini hingga dibawa sampai keluar negeri, yakni negara-negara Eropa terutama Belanda. Yang dibawa tersebut bukanlah ikan secara utuh atau daging ikannya, akan tetapi hanya telornya saja. Telor ikan tersebut dipercayai mengandung khasiat bagi vitalitas atau untuk kekuatan orang dewasa.

Ikan Terubuk di Bengkalis, pada musim ruaya masuk ke perairan Selat Bengkalis untuk berkembang biak, datang secara bergerombol dalam jumlah yang sangat banyak. Terubuk yang tertangkap rata-rata mengandung telor pada ovarium dalam perutnya, ini yang menjadi target tangkapan para nelayan.

Awalnya nelayan tidak menangkap terubuk kecil yang berjenis kelamin jantan, masyarakat menyebutnya “Pias”. Ikan terubuk akan berubah jenis kelamin, saat kecil ianya sebagai ikan jantan, akan berubah menjadi betina sejalan dengan perkembangan ukuran dan berat tubuhnya.

Tahun 1980-an perburuan ikan ukuran kecil semakin marak, nelayan memperkecil ukuran mata jaringnya, keberadaan Terubuk dari ke hari semakin menurun jumlahnya. Beberapa orang tua mengatakan, “Terubuk takkan hilang dari perairan Bengkalis, sebab ikan ini memilki keistimewaan, berapa jumlah yang masuk ke Selat Bengkalis maka sebanyak itulah yang akan keluar dari perairan Bengkalis menuju Selat Melaka”.

Awalnya hanya ikan yang betelur saja atau ikan betina matang gonad yang dijaring para nelayan, lama kelamaan sudah kepada perburuan ikan pias yang merupakan cikal bakal induk ikan yang menghasilkan telor dan meneruskan regenerasi ikan ini. Ikan pias yang tertangkap jumlahnya selalu lebih besar dari terubuk yang tertangkap dalam satu musim penangkapan.

Dari segi tekanan yang di alami oleh Terubuk akibat aktivitas penangkapan yang tak ada pembatasannya, menyebabkan populasi ikan ini terus mengalami penurunan, apalagi penangkapan tak memperhatikan kaedah pelestarian sumberdaya hayati ini, dimana tangkapan dilakukan pada saat ikan ini melakukan ruaya pemijahan karna awalnya yang diburu utamanya adalah terubuk bertelor yang nilai jualnya sangat tinggi.

Sekarang 1 ekor terubuk kecil saja yang bertelor paling murah seharga Rp50 ribu berat 300 gram, sedangkan harga yang tertinggi saat ini yang diketahui adalah Rp250 ribu perekor berukuran lebih kurang 1 Kg. Untuk Terubuk muda atau yang tidak bertelur dihargai Rp20 ribu – Rp25 ribu dan untuk pias atau Terubuk jantan dengan ukuran yang relatif lebih kecil dihargai Rp5 ribu – Rp10 ribu.

Sekarang Terubuk yang tertangkap sangat sedikit sekali, bahkan pada saat tertentu di waktu musim ruayanya tiba, tak jarang nelayan yang pergi melakukan perburuan ikan ini dengan peralatan jaringnya, tak mendapat seekorpun Ikan Terubuk.

Ruaya ikan terubuk untuk kawin atau memijah ke perairan Selat Bengkalis diawali di daerah Tanjung Jati, yakni bagian ujung sebelah Barat Pulau Bengkalis pada tanggal 8 hari bulan Hijriah hingga puncaknya tanggal 16 hari bulan penanggalan Hijriyah pada saat bulan terang, atau pada tanggal 23 hari bulan hingga 30 atau 1 hari bulan Hijriyah di bulan gelapnya.

Musim ruaya berlaku setiap bulan sepanjang tahunnya. Satu sisi tekanan yang dialami Terubuk sebagai species endemik di perairan Bengkalis yakni dari aktivitas penangkapannya yang terus terjadi hingga sekarang dan begitu memberikan pengaruh terhadap pengurangan populasi Ikan Terubuk. Belum lagi pengaruh yang diberikan akibat perubahan kualitas lingkungan terutama perairan yang mengalami degradasi yang tinggi dan cepat akibat aktivitas bukan hanya dari aktivitas manusia di perairan Selat Bengkalis dan perairan-perairan yang terhubung di sekitarnya, ditambah konstribusi bahan pencemar akibat aktivitas di daratan yang secara langsung dan tidak langsung akhirnya masuk ke perairan tersebut.

Larangan Tangkap Terubuk

Kisah terubuk ikan asuhan Datuk Laksamana Raja Di laut yang bermukim di Bukit Batu sebagai Penjaga Wilayah Perairan dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Siak Sri Indrapura dengan ritual “Semah Terubuk”-nya.

Penyadaran kepada kita untuk lebih memiliki rasa empati terhadap kondisi sumberdaya hayati dalam hal ini ikan Terubuk yang sudah diwarning sebagai ikan yang statusnya atau keberadaannya terancam punah.

Peraturan Bupati Bengkalis nomor 15 Tahun 2010 Tentang Kawasan Suaka Perikanan Ikan Terubuk, yang intinya melakukan upaya menjaga kelestarian ikan ini di perairan Bengkalis dengan mengatur aktivitas penangkapan yakni membatasi atau tepatnya melarang penangkapan ikan ini pada waktu-waktu tertentu. Waktu tersebut berdasarkan kajian ilmiah merupakan masa-masa puncak pemijahan ikan ini.

Waktu penangkapan yang dilarang tersebut di mulai bulan Agustus hingga November yang setiap bulannya itu 4 hari di bulan terang dan 4 hari di bulan gelap sesuai puncak ruaya ikan ini unuk memijah atau kawin. Aturan ini diperkuat dengan dikeluarkannya “Status Perlidungan Terbatas Jenis Ikan Terubuk” oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI melalui SK MEN KP Nomor 59 Tahun 2011 dan merupakan SK pertama yang dikeluakan oleh Kawasan Konservasi Perairan (KKP) seluas 48.784 ha untuk perlindungan ikan sebelum Hiu dan Pari.

Aturan berikutnya adalah Peraturan Gubernur Riau Nomor 78 Tahun 2012, tentang Suaka Perikanan IkanTerubuk di Propinsi Riau, aturan ini dilatar belakangi karna wilayah perairan ruaya ikan ini sudah mencakupi kawasan di 3 Kabupaten akibat pemekaran, yakni Bengkalis sebagai Kabupaten Induk, Siak Sri Indrapura, dan Kabupaten Kepulauan Meranti.

“Insya Allah, Semah Terubuk akan dilaksanakan pada tahun 2017 dengan nama “Kenduri Adat” sebagai bentuk kepedulian pemerintah baik Kabupaten Bengkalis, Pemprov Riau, maupun Pemerintah Pusat,” papar Kabid Pemberdayaan Perikanan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis, Muchlizar yang akrab disapa Mong Sagita, sebelumnya sebagai Kasi Konsrvasi dan Perlindungan Habitat Bidang Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. (Junaidi Usman)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.