Perempuan di Lingkaran Narkotika

0
Ilustrasi.

Pekanbaru, kronline.co — Kalangan perempuan Indonesia sangat rawan dalam penyalahgunaan narkoba, termasuk sebagai pengedar. Padahal pemerintah, Badan Narkotika Nasional dan daerah, serta pihak Kepolisian sudah berupaya keras dalam memerangi peredaran dan pengguna narkotika di setiap daerah. Pun sanksi hukum yang begitu berat yang dibuat oleh pemerintah, dianggap remeh sebelah mata.

Di Provinsi Riau dalam beberapa tahun ini, kaum perempuan sudah begitu banyak terlibat dalam penyalahgunaan narkotika, juga sebagai pengedar di dalam lapas maupun di lingkungan masyarakat. Ini salah satu bukti bahwa minat kaum perempuan terhadap barang haram ini sangat tinggi.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Riau, Dra Hidayati Effyza MM mengaku sangat prihatin dengan banyaknya perempuan yang memilih menjadi kurir dan pengguna narkotika. Menurutnya, ada beberapa faktor kenapa kaum perempuan bisa terpengaruhi akan obat terlarang tersebut, mulai dari kemiskinan yang membelit, gaya hidup komsumtif, serta perempuan yang kecanduan narkoba dan seks bebas akhirnya tergelincir juga menjadi pengedar..

Seharusnya, kata Effyza, kaum perempuan dan anak/remaja dilindungi dari penyalahgunaan narkoba. Ia khawatir karena hanya karena terbuai impian dan tergoda rayuan, perempuan seringkali jatuh dalam pelukan jaringan mafia narkotika. Bukannya kekayaan yang didapat, para perempuan ini malah hidup nestapa.

Sudah banyak contoh, sebutnya, mereka akhirnya hidup sengsara dibui dan telah divonis hukuman mati.

“Itulah kisah tragis wanita terpidana mati, yang karena ketidaktahuannya, menerima tugas sebagai kurir mengirim barang yang ternyata isinya narkoba,” ujar Effyza ketika diwawancara Koran Riau, Jum’at (3/3/2017) pekan lalu.

Disebutkan, BP3A Riau terus melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat, terutama memberikan penyuluhan tentang hukum, agama, sosial dan budaya serta sosialisasi bahayanya narkoba bagi kaum perempuan dan anak-anak/remaja. Walaupun kerja ini sebenarnya domain Badan Narkotika Nasional, tapi ada rasa tanggungjawab untuk saling membantu.

Bahkan penyuluhan dan sosialisasi bahaya terhadap narkoba sudah sampai ke pelosok desa dan kota. Pun dalam Lembaga Pemasyarakatan sudah dilakukan pula sosialisasi dan pembinaan kepada kaum perempuan, yakni dengan membuat kerajinan dan keterampilan.

“Jadi kalau mereka keluar dari lembaga, ada bekal hidup agar kaum perempuan bisa kembali menjalan aktivitas sehari-hari sambil berusaha meningkatkan keterampilan,” sebutnya.

Sejauh ini BP3A Riau sudah menangani 37 kasus perempuan dan anak, namun belum ada menangani kasus perempuan yang terlibat narkotika.

“Sekarang ini kita sedang menanggani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tapi kita dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Riau tetap berbuka diri bagi kaum perempuan yang membutuhkan bantuan hukum yang terlibat narkoba. Kenapa kita berikan bantuan hukum? Karena ada juga kaum perempuan yang dijebak di dalam kasus narkoba,” ungkap Effyza.

Berdasarkan catatan BNN, perempuan memang cenderung lebih banyak menjadi tersangka narkoba, karena perempuan juga sering jadi obyek yang dimanfaatkan sebagai kurir narkoba.

“Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Riau berharap agar kaum perempuan tidak ada lagi terlibat narkoba. Kaum perempuan harus bisa mandiri dan berkarir serta bisa bersaing dengan kaum laki-laki,” harap Effyza

Jangan Terjebak Lagi

Sementara itu, anggota Rumpun Perempuan Anak Riau, Ade Hartati menjelaskan peredaran narkotika sekarang ini tidak bisa kita pandang sebelah mata. Apalagi sindikat peredaran narkoba menggunakan berbagai cara untuk menyeludupkan dan mengedarkan barang haram termasuk dengan memanfaatkan kaum perempuan Indonesia. Tak sedikit perempuan Indonesia termasuk di Provinsi Riau yang terjerat pidana karena menjadi kurir narkoba.

“Keterlibatan kaum perempuan, khusunya ibu rumah tangga yang menjadi korban sindikat narkoba disebabkan ketidakpahaman dan pengetahuan yang minim mengenai bahaya narkoba. Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi celah yang dimanfaatkan sindikat untuk memperdayai kaum perempuan. Karena ketidakpahaman mereka dan juga faktor-faktor kemiskinan yang akhirnya dimanfaatkan oleh para sindikat,” ungkap Ade Hartati

Untuk itu, katanya, pemerintah harus berupaya keras dalam menyosialisasikan dan memberdayakan kaum perempuan agar tidak lagi terjebak oleh para bandar. Apalagi, kaum perempuan berperan penting dalam membentingi keluarga dari narkoba yang memiliki dampak negatif yang besar. Akibat narkoba, pengguna kehilangan produktivitasnya. Belum lagi risiko penyakit yang timbul akibat mengonsumsi zat berbahaya dalam narkoba.

“Memang sayangnya, upaya pemberantasan selama ini hanya pada persoalan hilirnya, persoalan hulunya kadang-kadang terlupa. Padahal persoalan hulunya yang sangat penting. Upaya pemberantasan narkona tidak hanya sekadar imbauan dan pamflet-pamflet, tapi perlu upaya strategis dan komprehensif salah satunya dengan pendidikan di rumah oleh ibu sejak usia dini,” sebut Ade.

Menurut Ade, peran perempuan dalam pemberantasan narkotika sangat penting, sebab ada cinta yang besar terhadap keluarganya dan keikhlasan serta kerelaannya untuk mengorbankan keinginan pribadi dan membentuk mereka menjadi tegar, berani dan kuat. Lalu karena keuletan dan kreativitas perempuan dalam menghadapi kondisi yang sulit. Terakhir, kemampuan perempuan berperan ganda dengan baik.

“Untuk itu saya mengimbau agar pemerintah agar terus memberikan penekanan kepada pihak-pihak terkait agar terus memberikan pembinaan mental dan pemberdayaan secara langsung kepada masyarakat khususnya ibu rumah tangga, hal ini paling tidak bisa mengurangi tingkat kriminalitas perempuan di Provinsi Riau,” pungkas Ade Hartati.

Anggota DPRD Kota Pekanbaru Kudus Kurniawan mengatakan, adanya aksi kejahatan yang dilakukan kaum perempuan terkait sebagai pengedar dan pemakai narkoba di Kota Pekanbaru maupun kabupaten lainnya terbukti dari banyak tahanan kaum perempuan yang berada di lembaga pemasyarakatan saat mengunjungi Lapas Pekanbaru beberapa bulan lalu.

Memang ada beberapa kasus yang dilakukan oleh kaum perempuan, mulai pencurian, penipuan, pembunuhan, termasuk sebagai pengedar dan pemakai narkotika. Dengan banyaknya kaum perempuan yang menjalankan masa hukumannya, bukti tingkat kriminalitas yang dilakukan oleh kaum perempuan sangat tinggi.

“Namun dengan tinggi kaum perempuan terlibat kasus hukum, tentu hal ini menjadi perhatian serius oleh pemerintah bagaimana melakukan pencegahan dan pembinaan dengan jalan menyosialisasikan di tengah masyarakat. Seperti halnya menyosialisasikan bahaya penggunaan narkotika dan sanksi hukumnya,” ungkap anggota Fraksi Hanura ini.

Selain sosialisasi, pemerintah perlu juga memberikan bantuan yang bisa meningkatkan perekonomian hidup mereka. Kesejahteraan hidup masyarakat sangat perlu diperhatikan. Faktor ekonomi yang sulit yang dialami masyarakat menyebabkan kejahatan bisa terjadi, makanya ada kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga yang tergoda mendapatkan keuntungan besar dengan menjual narkoba tanpa memikirkan sanksi hukumnya.

“Untuk kedepannya harus ada solusi dari pemerintah agar tingkat kriminalitas yang dilakukan oleh kaum perempuan bisa berkurang. Kepada masyarakat, khusunya kaum perempuan saya mengimbau agar jangan mudah tergiur dengan keuntungan besar dengan menjual narkoba,” sebut Kudus Kurniawan.n

Tahanan dan Napi Perempuan Capai 508 Orang

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia ‎Perwakilan Riau mencatat, hingga Februari 2017 jumlah tahanan dan narapidana wanita anak dan dewasa di Riau mencapai 508 orang. Paling banyak tahanan dan Napi itu menjadi penghuni Lembaga Pembinaan Khusus Anak dan Perempuan (LPKA) di Kota Pekanbaru.

Untuk tahanan perempuan anak dan dewasa ‎itu masih menjalani proses sidang dan belum dinyatakan incraht. Sedangkan narapidana perempuan sudah dinyatakan bersalah dan sedang menjalani masa-masa hukuman sesuai vonis hakim yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.

Di LPKA, jumlah tahanan perempuan dewasa mencapai 42 orang. Di Rumah Tahanan Bagansiapi-api sebanyak sebelas orang, di Rutan Selatpanjang ada tiga orang, di Rutan Sialang Telukkuantan lima orang, dan di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Bengalis sepuluh orang.

Sedangkan ‎di Lapas kelas II A Tembilahan ada empat orang tahanan perempuan dewasa, di Lapas Kelas II B Bangkinang ada sembilan orang, di Lapas Kelas II B Pasirpengaraian sebanyak enam orang, Rutan Kelas II B Dumai ada 14 orang, Rutan Kelas II B Rengat ada dua orang, dan Rutan Kelas II B Siak Sri Indrapura sebanya sembilan orang.

“Total tahanan perempuan dewasa di Riau sebanak 115 orang. Mereka masih menunggu perkara yang dijalani diproses hukum, sambil melakukan kegiatan rutinitas di masing-masing Rutan atau Lapas,” ucap Kepala Kanwil Kemenkum HAM Riau Ferdinan Siagian kepada KR, Rabu (8/3/2017).

Sementara untuk Narapidana atau Napi perempuan dewasa yang menjadi penghuni LPKA Pekanbaru sebanyak 227 orang‎, dan Rutan Bagansiapiapi ada depalan orang, di Rutan Selatpanjang sebelas orang, Rutan Taluk Kuantan hanya dua orang, dan Rutan Kelas II A Bengkalis sebanak 38 orang.

Sedangkan Napi perempuan dewasa yang menempati Rutan Kelas II Tembilahan ‎ada 19 orang, Lapas Kelas II B Bangkinang ada 25 orang, Lapas Kelas II B Pasir Pengarayan ada lima orang, Rutan Kelas II B Dumai ada 28 orang, Rutan Kelas II B Rengat sepuluh orang, dan Rutan Kelas II B Siak Sri Indapura ada 17 orang.

“Jumlah total Napi perempuan dewasa sebanyak 390 orang. Mereka sedang menjalani masa hukuman sesuai vonis yang dijatuhi hakim yang menyidangkan,” kata Ferdinan.

Ferdinan menjelaskan, selain perempuan dewasa, masing-masing Rutan dan Lapas yang yang mereka tempati juga dihuni Napi dan tahanan anak-anak. Bahkan untuk di Pekanbaru dibangun khusus untuk perempuan dan anak-anak yakni LPKA.

Biasanya Dilatarbelakangi Life Style

Pengamat Kriminologi dari Universitas Islam Riau Kasmanto Rinaldi SH MSi berpendapat, dalam sisi kejahatan di mana perempuan sebagai pelakunya, sah-sah saja terjadi. Dia mencontohkan peristiwa yang pernah terjadi, ketika teroris memengaruhi perempuan untuk digunakan sebagai tumbal sekaligus pelaku.

“Saat ini, untuk pelaku bom bunuh diri saja merekrut perempuan sebagai calon pengantinnya,” kata pria yang sedang menempuh pendidikan program Doktoral Kriminologi Universitas Riau itu.

Menurut Kasmanto, aspek perempuan sebagai pelaku, biasanya untuk kejahatan narkoba, penipuan dan pencurian. Dalam kasus narkoba, biasanya perempuan dijadikan kurir oleh orang-orang terdekatnya, yakni yang bersangkutan cenderung berada dalam suasana terintimidasi.

Sementara untuk kejahatan penipuan atau penggelapan, biasanya perempuan dilatarbelakangi oleh life style yang cenderung tidak tertutupi oleh kemampuan finansialnya sehari-hari.

“Sedangkan untuk kasus pencurian, biasanya dampak dari persoalan hidup, yakni sebagian besar adalah karena faktor kesulitan dalam mempertahankan kehidupan,” ucap Wakil Dekan 3 Fisipol Universitas Islam Riau ini. (Abdullah Sani dan M Yusuf)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.