Dewasa Berpolitik atau Tak Peduli?

Pilkada Pekanbaru Tanpa Gesekan

0
Patut disyukuri seluruh proses penyelenggaran Pilkada Kota Pekanbaru yang baru lalu berlangsung tanpa gesekan berarti. Namun di sisi lain, angka partisipasi pemilih jauh di bawah target yang ditetapkan. Ini pertanda masyarakat Pekanbaru sudah dewasa dalam berpolitik dan melihat perbedaan, atau malah karena tidak peduli?

Pekanbaru, kronline.co — Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Pekanbaru tanggal 15 Februari 2017 berjalan lancar tanpa ada gesekan sedikitpun dari masing-masing pendukung maupun peserta pasangan calon. Padahal kalau dilihat dari jumlah kontestan yang bertarung termasuk jumlah yang banyak, yaitu lima pasang calon.

Mulusnya pelaksanaan Pilkada Kota Pekanbaru tidak saja dalam proses pencoblosan atau pemungutan suara yang dilakukan. dibuktikan dengan tidak ada satupun dari 1.696 tempat pemungutan suara (TPS) yang ada dilakukan pemungutan suara ulang karena ada kesalahan atau kegaduhan. Tapi juga dalam proses penghitungan hasil perolehan suara masing-masing pasangan colon dan pendukung dapat menerima hasilnya.

Dari pleno hasil penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU Kota Pekanbaru terhadap masing-masing pasangan calon 22 Februari 2017, perolehan suara tertinggi diraih oleh pasangan calon nomor urut 3, Firdaus-Ayat Cahyadi dengan 94.784 suara. Kemudian posisi ke dua diraih pasangsn calon nomor urut 5, Dastrayani Bibra-Said Usman Abdullah dengan 62.501 suara.

Pasangan calon nomor urut 4, Ramli Walid-Irvan Herman raih suara terbanyak ketiga 59.694 auara, pasangan independent nomor urut dua, Herman Nazar-Devi Warman raih suara terbanyak empat 46.606 suara, dan pasangan independen lainnya nomor urut 1, Syahril-Said Zohirin raih suara terbayak lima 22.202 suara.

Ketua KPU Kota Pekanbaru H Amiruddin Sijaya kepada KR mengaku sangat bersyukur atas suksesnya pelaksanaan Pilkada Pekanbaru yang berjalan tanpa ada halangan, rintangan, permasalahan dan hambatan yang berarti. Menurutnya ada beberapa hal yang menyebabkan pelaksanaan Pilkada Kota Pekanbaru berjalan sukses.

Pertama, menurutnya, masyarakat Pekanbaru sudah dewasa dalam menghadapi atau melihat arti sebuah perbedaan. Sehingga tidak perlu sampai terjadi gesekan. Ke dua, memang sudah ada dibuat kesepakatan dari masing-masing pasangan calon tidak boleh mengajukan gugatan kalau selisih persentase kemenangan yang diraih antara penenang satu dengan dua lebih dari satu persen.

“Ini kan persentase pemenang satu dengan dua selisihnya mencapai 11 persen,” jelasnya.

Namun demikian, walaupun tidak ada gugatan, berdasarkan surat KPU RI Nomor 199/2017, dalam Pleno Penetapan Pemenang Pasangan Calon harus ada Surat Keterangan Tidak Ada Sengketa dari Mahkamah Konstitusi (MK). Surat dari MK itu diberikan ke KPU Kota Pekanbaru pada 13 Maret 2017. Sementara berdasarkan tahapan pleno penyampaian pemenang sebelumnya antara tanggal 8 hingga 10 Maret. Untuk itu KPU bersama Panwaslu minta pleno ini ditunda.

“Berdasarkan rapat bersama antara Komisioner KPU yang baru saja kita lakukan, karena surat dari MK itu diberikan pada 13 Maret 2017 maka pelaksanaan pleno penetapan calon pemenang kita jadwalkan pada 15 Maret 2017,” pungkasnya, kemarin.n

Karena Apatis Masyarakat

Sementara, seorang pengamat politik Riau, Panca Setio Prihatin berpendapat, ada dua persepsi ysng dapat dilihat dari pekaksanaan Pilkada Kota Pekanbaru 15 Februsri 2017 lalu. Pertama, sifat apatisme dari masyarakat. Masyarakat tidak ingin tahu dengan apa yang terjadi. Apapun hasilnya atau keputusan tidak ambil peduli. Ke dua, karena masyarakat tidak punya ikatan emosional yang kuat.

“Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Bisa pendidikan masyarakat yang sudah tinggi, bisa juga karena tingkat kesibukan masyarakat yang cukup tinggi. Partisipasi politik juga tidak terlalu tinggi. Banyak sebetulnya yang jadi sorotan, kinerja KPU dalam melakuksn sosialisasi Pilkada juga belum optimal,” sebutnya kepada KR, Senin (13/3/2017).

Ia menjelaskan, target pemilih hanya tercapai sekitar 52 persen dari 77,5 persen target ysng ditetapkan dengan jumlah DPT 572 ribu pemilih.

Disampaikan Dosen Universitas Islam Riau ini, Pekanbaru tidak sama dengan Kota Jakarta. Kalau Pilkada Jakarta ada sentimen yang dibawa.

“Kondisi Pekanbaru tingkat tidak ambil pusingnya tinggi. Setelah melakukan pencoblosan di TPS sudahlah, apapun yang terjadi setelah itu tidak ambil pusing. Ini bisa jadi karena yang disampaikan tadi, tingkat pendidikan tinggi, penduduk yang banyak dari urban, sosialisasi yang kurang, dan tidak adanya yang istimewa dalam peserta atau kontestan,” ungkapnya.

Disebutkan juga, dari calon yang bertarung, hanya petahana yang sedikit diuntungkan karena memimpin lima tahun sebelumnya jadi lebih dikenal. Calon yang lain tidak bisa pula meyakinkan masyarakat dengan program unggulan yang dimiliki. Ditambah dengan banyak calon, malah menguntungkan petahana.

Salah satu sifat apatis itu dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh keluarga Erfin, warga Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai. Dalam satu keluarga ada empat orang yang punya hak suara untuk memilih dan dapat undangan memlih, tapi tidak satupun menggunakan hak suaranya dalam pelaksanaan Pilkada lalu.

Saat dikonfirmasi, Erfin hanya nenjawab dengan polos dan enteng seeakan tak bersalah bahwa ia sibuk bekerja. Memang ia berdagang rokok di pinggir jalan. Seorang anaknya juga menjawab sama, sibuk karena ngojek. Selain itu, mereka itu tidak mau memliih karena menganggap tidak ada pengaruh dengan kondisi dan usahanya yang akan seperti itu saja. (Ismet Tarmizi)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.