Di Balik Vonis Bebas Tersangka Korupsi

0
Ilustrasi.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Pekanbaru sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat atas keputusan menjatuhkan vonis bebas. Itu dilakukan hakim terhadap beberapa kasus korupsi yang tergolong besar potensi merugikan negara, seperti dalam dakwaan Jaksa.

Pekanbaru, kronline.co — Dengan adanya vonis bebas, dikhawatirkan perbuatan korupsi akan semakin merajalela dan tidak memberikan efek jera bagi yang sudah mengalaminya. Bagi yang belum, mereka dimungkinkan mencari peluang untuk melakukan perbuatan yang dinilai merugikan negara dan rakyat.

Namun apalah daya, kewenangan hakim tidak bisa diganggu gugat dan diprotes. Meski demikian, Jaksa Penuntut Umum memiliki hak untuk menyatakan kasasi ke Mahkamah Agung untuk mencari siasat bagaimana cara menjerat para terdakwa kasus korupsi.

Mantan Ketua Pengadilan Negeri Pekanbaru Achmad Setyo Pudjoharsoyo tercatat berkali-kali membebaskan terdakwa kasus korupsi itu. Beberapa kasus besar yang pernah disidangkannya meski sempat vonis bebas, namun divonis lebih tinggi di Mahkamah Agung semasa dia menjabat Ketua PN Pekanbaru. Namun kini Pudjo mencapai karier yang lebih tinggi, yakni menjabat sebagai Sekretaris Mahkamah Agung.

Bahkan, pengganti Ketua PN Pekanbaru saat ini Marsudin Nainggolan juga bersikap yang sama dengan sebelumnya. Sejumlah kasus korupsi dijatuhi vonis bebas, baik yang ditangani Kejaksaan di Riau maupun kasus yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut pengamat hukum dari Universitas Islam Riau Zulkarnain, vonis bebas terhadap terdakwa memiliki beberapa faktor. Baik faktor dari kemampuan hakim, maupun kecermatan Kejaksaan atau kepolisian sebagai penyelidik dalam menyusun surat dakwaan.

“Di situ kita pertanyakan kemampuan hakim dalam memutusan perkara, apakah pembuktian dirasa tidak tepat untuk mendakwa seseorang, atau keanehan lain. Ini bisa membuat warga kecewa,” ujar Zulkarnain kepada KR, Rabu (15/3/2017).

Dijelaskannya, selain itu vonis bebas juga bisa dipandang dari kemampuan jaksa dalam membuktikan perbuatan terdakwa korupsi. Jika hakim menjatuhkan vonis bebas, kemampuan jaksa dipertanyakan, begitu juga sebaliknya.

“Kalau hakim menilai perbuatan terdakwa korupsi tidak bisa dibuktikan, artinya dakwaan jaksa tidak bermutu dan tidak cermat. Hingga akhirnya terdakwa korupsi divonis bebas karena hakim tidak yakin dengan pembuktian jaksa,” ucap Zulkarnain.

Di kalangan masyarakat, vonis bebas ada yang menguntungkan kelompok tertentu, adapula yang merugikan kalayak ramai. Dampak dari vonis bebas akan mengakibatkan warga sengsara. Sebab, uang negara yang dipercayakan pada pejabat tertentu tidak dikelola dengan baik.

“Yang dikorupsi itu kan uang rakyat. Kalau bukti-bukti tidak cukup dan divonis bebas, rakyat jadi bingung. Karena masyarakat sudah mempercayakan penyelidikan kasus korupsi kepada para penegak hukum, ada atau tidaknya korupsi, rakyat tidak tahu,” kata Zulkarnain.

Dia melanjutkan, jika Jaksa kalah di Pengadilan Negeri dalam pembuktian perbuatan sesorang terdakwa korupsi sehingga hakim memvonis bebas, maka jaksa harus melakukan kasasi ke Mahkamah Agung, sebab hakim di sana lebih berpengalaman dalam menilai berkas dakwaan serta dokumen lain terkait perbuatan korupsi.

“Jaksa kasasi ke Mahkamah Agung, di sana kan hakim sudah senior dan lebih berpengalaman dari hakim pengadilan di daerah. Nanti hakim agung akan menilai perbuatan itu dari dokumen tersebut, tidak ada lagi pemeriksaan terdakwa atau saksi,” jelasnya.

Proses kasasi di MA biasanya membutuhkan waktu yang lama, sebab jumlah hakim agung sangat terbatas dibandingkan jumlah kasus korupsi di seluruh Indonesia yang mengajukan kasasi. Bahkan, kasus pidana lain juga bermuara ke MA jika tidak puas di tingkat daerah.

“Jika seorang pejabat daerah yang menjadi terdakwa kasus korupsi divonis bebas oleh hakim di pengadilan negeri, maka boleh keluar sementara dari rumah tahanan. Karena itu demi kepentingan masyarakat juga. Dengan syarat, asalkan si terdakwa kooperatif. Tergantung jaksa nanti yang menilai, kalau sewaktu-waktu dibutuhkan harus segera datang,” kata Zulkarnain.

Hakim Agung dianggap lebih berpengalaman dan cermat dalam mengamati dokumen dakwaan maupun pembuktian yang dilakukan Kejaksaan atau polisi yang menangani perkara korupsi. Nantinya, hakim menjatuhkan vonis sesuai penilaian mereka terhadap perkara tersebut.

“Jika Hakim Agung menjatuhkan vonis berapa tahun, maka si terdakwa tidak dapat mengelak lagi dan harus kembali mendekam di sel jeruji besi dan putusan hakim Pengadilan Negeri dianggap batal. Tapi jika Hakim Agung juga memvonis tidak bersalah dan sependapat dengan hakim daerah, si terdakwa bisa menghirup udara bebas,” terang Zulkarnain.

Apa selanjutnya yang dilakukan terdakwa kasus korupsi yang dijatuhi vonis bebas dan sudah bersifat inkrah atau berkekuatan hukum tetap, maka pemerintah wajib memulihkan nama baiknya. Sebab, selama persidangan masyarakat mengetahui si terdakwa dituntut karena dugaan perbuatan korupsi.

“Terdakwa tersebut dapat menuntut balik pemerintah, untuk memulihkan nama baiknya. Dan itu harus dilakukan pemerintah demi melaksanakan hak-hak terdakwa yang tidak terbukti korupsi. Dakwaan dan kemampuan jaksa juga diragukan dalam hal ini,” jelasnya.

Beberapa waktu lalu, Bupati Rokan Hulu nonaktif Suparman dijatuhi vonis bebas oleh Ketua Hakim Majelis yang menyidangkannya Marsudin Nainggolan. Suparman dinilai tidak terbukti melakukan perbuatan melawan hukum dalam kasus korupsi yang disangkakan Jaksa KPK.

Tak ayal, Politisi Partai Golongan Karya itu langsung sujud syukur dan mengurus kebebasannya di Lapas Pekanbaru. Kemudian, mantan ketua DPRD Riau itu langsung pulang ke rumah orangtuanya. Namun, Suparman belum bernafas lega, perjuangannya untuk lepas dari jeratan hukum masih panjang.

JPU KPK yang merasa tidak puas atas putusan hakim tersebut mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Kini, Suparman menunggu putusan Hakim Agung untuk menjalani masa depannya, apakah akan kembali ke penjara atau balik lagi menjadi Bupati Rokan Hulu dan menjalankan roda pemerintahannya. (Abdullah Sani)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.