Tanjak yang Mulai Jadi Tren

1
Alas kepala tradisional Melayu yang dikenal dengan sebutan tanjak, kini semakin populer sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari. Meski secara adat ada aturan pemakaian tanjak tersebut, tren penggunaan tanjak dalam keseharian ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Melayu.

Sorotan: M Yusuf, Pekanbaru

Dulu, menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Melayu ketika menggunakan tanjak. Biasanya tanjak dipakai oleh Raja atau Sultan pada kerajaan Melayu tempo dulu. Tanjak yang merupakan alas kepala bagi laki-laki ini, selalu dipakai pada acara adat istiadat budaya Melayu.

Hingga kini penggunaan tanjak dipakai oleh kaum laki-laki Melayu tanpa memandang usia. Mulai dari Tokoh Adat, Majelis Kerapatan Adat, pesta kawin serta upacara adat budaya Melayu, tanjak selalu dipakai sebagai simbol kewibawaan kaum laki-laki. Berbagai bentuk motif dan ragam warna, tanjak menjadi simbol peninggalan warisan budaya Melayu.

Namun memasuki era modernisasi dan serba canggih ini, budaya pemakaian tanjak bukan saja dipakai dalam acara adat budaya Melayu, tetapi kini pemakai tanjak semakin populer di tengah masyarakat, khususnya dipakai kalangan generasi muda, seniman dan budayawan, kalangan aparatur sipil negara, serta karyawan hotel.

Populernya pemakai tanjak kini sudah menjamur di beberapa kabupaten dan kota di Bumi Lancang Kuning, Riau. Sebut saja Kabupaten Siak yang menerapkan keharusan bagi ASN di sana memakai tanjak setiap Kamis dan Jum’at. Bahkan di Kabupaten Bengkalis dan Kota Pekanbaru, kalangan muda banyak mulai menggunakan tanjak dengan berbagai jenis kain dan warna. Tentu saja, dengan populernya pemakai tanjak ini berdampak positif bagi pelaku usaha pembuat tanjak.

Namun menurut Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) OK Nizami Jamil, yang banyak dipakai masyarakat sekarang ini namanya pengikat kepala, kalau tanjak itu khusus dipakai pada acara adat.

Dulu tanjak dipakai oleh datuk-datuk yang dilengkapi dengan pakaian teluk belanga berwarna hitam yang dilengkapi dengan keris. Bahkan tanjak dipakai pada waktu tertentu, seperti acara adat dan pelantikan. Tapi kalau dalam keseharian atau mau berperang tidak memakai tanjak.

“Bahkan kalau tanjak itu dipakai tidak nampak kepala atau rambut beruban kita, tapi kalau yang dipakai sekarang nampak kepalanya. Kita harus tahu perbedaan mana namanya tanjak dan pengikat kepala,” ungkap OK Nizami Jamil.

Dilanjutkan, kalau tanjak itu ada aturan pemakainya dan tidak sembarang saja dipakai. Tapi, kalau ada pihak yang mengatakan itu berbentuk tanjak, silakan saja. Namun dalam adat, tanjak itu bukan dipakai dalam keseharian. Kalau yang dipakai dalam keseharian itu namanya ikat kepala,” demikian OK Nizami Jamil.

Salah seorang pengrajin Tenun Siak yang juga membuat tanjak, Zurma Kusmipeni mengatakan, sejak meluasnya penggunaan tanjak terutama di Kabupaten Siak ia membuat semakin banyak tanjak dalam berbagai motif maupun bahan.

Pengrajin yang bermastautin di Siak Sri Indrapura ini mengaku sudah menjual lebih 200 tanjak di tengah masyarakat. Ia bahkan baru-baru ini menerima oderan atau pesanan dari kalangan panitia MTQ di Kabupaten Siak.

Peni –panggilan akrabnya– menjelaskan, pembuatan tanjak tidaklah sulit, paling lama satu jam untuk membuat satu tanjak dan paling cepat setengah jam. Adapun bahan tanjak terdiri dari bahan kain tenun, kain songket, kain polos, kain kombinasi tenun dan songket, serta ada juga yang meminta pembuatan tanjak dari kain batik dan kain sarung.

Semantara itu, kata Peni, tanjak yang paling laris terjual adalah tanjak songket penuh. Sedangkan untuk harga tanjak bervariasi, untuk satu tanjak tenun full tenun dijual dengan harga Rp200 ribu, tenun kombinasi tenun Rp150 Ribu, tenun kombinasi Rp100 ribu, tanjak kain polos Rp60 ribu, tanjak full songket Rp75 ribu, tanjak songket kombinasi Rp65 Ribu, tanjak batik dan kain sarung Rp60 Ribu.

“Saya tidak menitip di toko-toko baju atau butik, tetapi kami menjual secara langsung. Termasuk melalui jejaring facebook,” cerita Peni kepada KR, Jum’at (17/3/2017).

Adapun jenis lipatan tanjak yang laris adalah motif Dendam Tak Sudah.

“Memang setahu saya ada beberapa jenis lipatan tanjak, seperti Belalai Gajah, Setanjak Balung Raja, Sarang Kerengga, Sekelungsung Bunga, Ketam Budu, Kacang Dua Helai Daun, Solok Timba, Mumbang Belah Dua, Sekolongsang Bunga, Cogan Daun Kopi, Balung Ayam, Ayam Patah Kepak, Pucuk Pisang, Buana, Sering, Getam Pekasam, Anak Gajah, Menyusu, Pari Mudek, Lang Menyusur/Menyonsong Angin, dan Lang Melayang,” terang Peni.

Peni berharap tanjak sebagai warisan budaya Melayu ini bisa dipakai dalam keseharian oleh masyarakat Riau, termasuk para pelajar. Sebab menurutnya, dengan menggunakan tanjak setiap hari ini membuktikan kita masih mempertahankan warisan budaya kita, seperti masyarakat Yogyakarta yang banyak menggunakan blangkon dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Jadi Kebanggan

Seniman dan budayawan Riau, Hang Kafrawi yang juga memakai tanjak akhir-akhir ini mengatakan, memang tanjak menunjukkan jati diri Kemelayuan kita kepada orang lain. Banyaknya generasi muda di Provinsi Riau yang memakai tanjak saat ini, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kalangan pemuda.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan tanjak yang dipakai oleh masyarakat dari berbagai kalangan, hampir sama dengan orang Jawa yang menggunakan blangkon setiap hari. Jadi, dengan dipakainya tanjak dari berbagai kalangan masyarakat, seperti di Siak yang mewajibkan ASN memakai pada hari tertentu, bisa menjadi contoh bagi daerah lainnya.

“Memang tanjak yang dipakai kalangan masyarakat sekarang ini jauh berbeda dengan tanjak yang pakai oleh pemangku Adat, Raja-Raja serta tanjak yang dipakai dalam acara pernikahan. Tanjak yang dipakai sekarang ini bentuknya sederhana, walapun ukurannya rendah tapi maknanya sama,” ungkap Kafrawi, ditemui Jum’at.

“Kita sangat mendukung dan memberikan apresiasi kepada kalangan masyarakat yang memakai tanjak. Selain suatu kebanggaan memakai tanjak, hal ini bentuk sosialisasi secara langsung. Namun kita berharap agar Pemerintah Provinsi dan daerah membuat aturan agar penggunaan tanjak ini bisa dipakai saat jam kerja dan termasuk juga diwajibkan pemakaiannya kepada siswa.”

Semantara itu, seorang warga Monda Gianes juga mulai menggunakan tanjak. Menurut honorer Dinas Kebudayaan Provinsi Riau ini, awal ia pemakai tanjak karena memang tertarik.

Monda menilai bila memakai tanjak muncul rasa kewibawaan dan percaya diri. selain itu, juga bisa menjadi style (gaya) penampilan.

“Saya menggunakan tanjak ini setiap hari, baik dalam kegiatan kerja dan kegiatan kesehari-harian,” ujar Monda.

“Memang banyak kawan yang memakai tanjak, walaupun berbeda jenis bahannya serta harganya, tetapi bila berkumpul ada rasa kebersamaan yang muncul pada diri kita. Saya rasa penggunaan tanjak ini perlu disosialisasikan kepada elemen masyarakat, walau pun dengan harga sedikit mahal tetapi bila memakainya ada rasa kepuasan tersendiri.”

You might also like More from author

1 Comment

  1. Rumah Kerancang Femina says

    INFO LOWONGAN KERJA

    Posisi Pekerjaan :
    Penenun
    (Karyawan Tenun ATBM / Alat Tenun Bukan Mesin)

    Persyaratan :
    – Perempuan, Belum Menikah, umur 19 – 25 tahun
    – Jujur, lebih disukai Suku Jawa.
    – Domisili di kota Pekanbaru
    – Lulusan SMK Tekstil Kriya / Tata Busana (berijazah), atau pernah mengikuti Pelatihan Tenun / Magang Tenun, atau Telah Berpengalaman Tenun 1 tahun.

    Surat Lamaran dan CV (daftar riwayat hidup) dapat diantar langsung ke :

    “Rumah Jahit Femina”
    Perumahan Bandar Asri
    Jl. Rawa Sejati No. 4 Rt.01/Rw.10
    (belakang Warehouse JNE Rawa Indah)
    Sidomulyo Timur – Marpoyan Damai
    Pekanbaru 28125
    HP. 0813 9615 4436

Leave A Reply

Your email address will not be published.