Hakim Pilihan Trump Dilantik, Konservatif Dominasi MA Amerika

0
Menurut Trump, Gorsuch merupakan sosok tepat untuk mengisi satu posisi hakim MA yang kosong setelah hakim Antonin Scalia meninggal pada Februari lalu. (Reuters/Kevin Lamarque)

Jakarta, kronline.co — Sosok pilihan Presiden Donald Trump, Neil Gorsuch, akhirnya dilantik sebagai hakim kesembilan untuk Mahkamah Agung Amerika Serikat, membuat lembaga itu didominasi oleh kubu konservatif.

“Saya berjanji akan menggunakan seluruh kewenangan saya sebagai pelayan yang setia pada Konstitusi dan undang-undang dari bangsa besar ini,” ujar Gorsuch dalam upacara pengambilan sumpahnya di Gedung Putih, Senin (10/4).

Dengan dilantiknya Gorsuch, kini ada sembilan hakim di MA, yaitu lima konservatif dan empat liberal. Komposisi hakim ini menjadi sorotan luas karena akan menentukan cara pengambilan keputusan MA, terutama dalam isu sensitif, seperti kontrol senjata, hukuman mati, kewenangan presiden, hingga hak beragama.

Trump, yang mulai kehilangan dukungan, mengaku sangat puas dengan keputusan parlemen ini. Menurutnya, Gorsuch merupakan sosok tepat untuk mengisi satu posisi hakim MA yang kosong setelah hakim Antonin Scalia meninggal pada Februari lalu.

“Bersama, kita menjalani proses meninjau dan mebarui dan juga membangun kembali negara ini. Semangat baru menyapu tanah kita dan keyakinan baru dalam Amerika mengisi hati kita,” ucap Trump sebagaimana dikutip AFP.

Namun, keputusan parlemen ini didapat setelah proses perdebatan panjang. Gorsuch sendiri lolos hanya dengan suara tipis dalam pemungutan suara di parlemen pekan lalu, yaitu 54-45.

Partai Demokrat menentang keras penunjukkan Gorsuch karena sebelumnya, Pemimpin Mayoritas Parlemen AS, Mitch McConnell, menolak pencalonan hakim pilihan Barack Obama, Merrick Garland.

Saat ditunjuk oleh Trump, Gorsuch sedang bertugas sebagai hakim di pengadilan banding di Colorado. Lulusan Harvard ini juga sempat menjadi pengacara di Kementerian Kehakiman pada 2005-2006, yang memimpin semua proses pengadilan dalam upaya AS memerangi teror.

Salah satu kasus yang paling menjadi sorotan adalah upaya penanganan kasus Khaled el-Masri, seorang warga Jerman-Libanon yang diserahkan kepada CIA di Macedonia pada 2003.

El-Masri akhirnya dibebaskan. CIA mengakui bahwa penahanan el-Masri merupakan sebuah kesalahan pihaknya.

Dalam sidang uji kelayakan, Gorsuch mengatakan bahwa semua keputusannya di Kementerian Kehakiman AS harus dilihat sebagai upayanya mewakili pandangan kliennya, yaitu pemerintah. (CNNI)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.