Bisnis Daring, Kemudahan Bukan Tanpa Resiko

0

PENGANTAR REDAKSI
Usaha jual-beli berbasis jaringan (internet) kini ramai diminati. Harus tetap hati-hati karena tidak bersuanya antara penjual dengan pembeli.
Sorotan: M Yusuf dan
Rahmat Hidayat, Pekanbaru

Kemajuan teknologi selalu berbanding lurus dengan kemajuan dalam tata cara berbisnis. Seiring berjalannya waktu, kemajuan teknologi semakin canggih dan berkembang. Kemajuan ini tak hanya memberikan dampak pada persaingan teknologi itu sendiri, namun juga memberikan hal yang baru bagi masyarakat sehingga masyarakat harus bisa mengikuti perkembangannya.
Di antara teknologi yang ramai dimanfaatkan itu adalah jaringan komunikasi yang saling terhubung atau kita kenal dengan internet. Beberapa tahun terakhir ini marak bisnis berbasis internet dalam jaringan (daring) atau online, termasuk di Indonesia. Masyarakat Pekanbaru pun tak ketinggalan memanfaatkan fasilitas ini. Ini memberikan perubahan yang signifikan kepada masyarakat, khususnya dari sisi ekonomi.
Usaha dagang berbasis daring jadi hal baru yang ramai diminati. Baik oleh pedagang maupun pembeli. Yang memiliki modal besar membuka toko daring, sementara yang modal kecil berjualan bebas tanpa membuka toko.
Transaksi daring bukan lagi hal aneh. Di tambah kemajuan teknologi telepon genggam yang semakin memudahkan orang untuk memanfaatkan internet. Tidak dipungkiri lagi masyarakat harus mengikuti, atau mereka akan tertinggal. Metode konvensional yang selama ini gunakan perlahan mulai ditinggalkan. Sehingga mau tidak mau masyarakat harus bisa mengimbanginya.
Bisnis daring ini sangat membantu masyarakat dalam berbelanja. Konsumen tanpa beranjak dari rumah –misalnya—bisa berbelanja barang-barang yang diinginkannya dengan mudah.
“Bentuk bisnis yang berbasis online, kita memang sudah harus menuju ke sana. Jika ingin menuju masyarakat maju, tentu kita harus mengikuti perubahan,” ujar Boby, warga Pekanbaru, Senin lalu (28/8/2017) kepada KR.
“Karena memang metode konvensional bisa dikatakan sudah ketinggalan zaman, jangkauannya juga tidak seluas online dan waktunya juga tidak secepat online,” tambahnya.
Salah seorang pelaku bisnis daring di Pekanbaru, Nofrizal, menawarkan produknya melalui media sosial yang ia gunakan. Menurutnya, dengan berjualan daring tidak perlu membuka lapak atau menyewa lapak di pasar ataupun rumah toko. Pelaku bisnis bisa berjualan di rumah sendiri sebagai tempat stok barang.
“Jika ada pelanggan yang minat ataupun ingin bertanya-tanya, mereka cukup menghubungi kontak yang kita sediakan di posting-an yang kita unggah,” sebutnya kepada KR beberapa waktu lalu.
Hal senada juga disampaikan Rahmad, seorang pelanggan yang sering memanfaatkan daring untuk berbelanja. Berbelanja daring, kata dia, sangat memudahkan. Selain memesan barang yang diinginkan tidak perlu ke tempatnya karena cukup dengan telepon pintar saja, juga tidak perlu menjemput barang pesanan tersebut karena barang yang dibeli akan diantarkan sampai alamat melalui jasa pengiriman yang dipercayai.
“Tak hanya itu, harga jual yang ditawarkan di online lebih menggiurkan murahnya daripada di konvensional. Hal ini sudah kita coba bandingkan di beberapa tempat penjualan barang yang sama dengan barang yang kita beli melalui online, dan ternyata barang yang sama akan tetapi harga berbeda,” kata, ditemui Ahad lalu.
Tapi Rahmad mengingatkan agar tetap waspada. Bisnis daring, sebutnya, juga mengandung risiko yang cukup besar. Sebab pembeli tidak bertemu langsung dengan penjualnya. Di sini bisa saja terjadi penipuan oleh penjual, juga oleh pembeli.
“Kita perlu waspada akan adanya penipuan dari pihak produsen. Untuk mencegah hal itu perlu kita waspadai juga seperti melihat testimoninya, pengikutnya, ataupun jumlah anggota yang tergabung dalam satu grup. Hal itulah yang kita waspadai supaya hal yang tidak diinginkan tak terjadi pada kita,” tutup Rahmad.
Izin
Legalitas usaha secara daring ini juga jadi perhatian. Sekarang ini, berbagai jenis unit usaha ditawarkan oleh pihak penjual melalui sistem daring, baik oleh pelaku perseorangan, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) konvensional, toko retail kecil, hingga sampai bisnis rumahan dan peralatan rumah tangga.
Kabid Perdagangan Dinas Disperindag Kota Pekanbaru, Mas Irba Sulaiman mengatakan, sejauh ini belum ada izin perdagangan daring yang dikeluarkan pihaknya. Namun adanya peraturan baru oleh pemerintah pusat, masalah pelayanan pengurusan izin SIUP dan TDP masalah Izin Perdagangan Online tidak lagi menjadi tanggungjawabnya Disperindag, tetapi menjadi urusan Badan Pelayanan Terpadu dan Penanaman Modal kota Pekanbaru.
“Jadi BPTPM-lah yang mengeluarkan Izin Perdagangan Online untuk sekarang ini,” ujar Mas Irba.n

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.