Elpiji Melon Langka dan Mahal, Warga Pasrah tapi Tak Rela

0

PENGANTAR REDAKSI
Kelangkaan elpiji tabung 3 Kg yang sering terjadi, khususnya di Pekanbaru, Riau, membuat masyarakat kesulitan. Ditambah dengan harga yang mencapai dua kali lipat dari harga eceran tertinggi di pangkalan, yaitu Rp18 ribu per tabung.
Sorotan: Ahmad Tasliem dan Rahmat Hidayat, Pekanbaru

Untuk kesekian kalinya, dan sudah berlangsung sejak Idul Adha lalu, harga elpiji tabung 3 Kg bersubsidi di Pekanbaru khususnya, mahal. Sudahlah mahal, barangnya susah pula didapat, bahkan di tingkat pengecer sekalipun.
Namun bila menemukan, masyarakat yang memerlukan gas ‘tabung melon’ itu tetap saja membelinya. Sementara harga tetap saja tinggi, dan jaminan harga akan turun serta barang tidak lagi langka belum juga didapat masyarakat.
Atas kondisi tersebut, ternyata masyarakat pun tidak lantas melaporkan ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru. Mereka lebih memilih tetap membeli dengan harga yang mahal daripada melaporkannya ke dinas bersangkutan.
Padahal Disperindag memberikan jalan bagi masyarakat untuk mencegah kelangkaan dan mahalnya harga jual gas 3 Kg ini. Karenanya Disperindag mengimbau, jika terjadi hal seperti itu silakan laporkan.
Ternyata ada alasan tersendiri mengapa masyarakat enggan melaporkan kelangkaan dan mahalnya harga elpiji tabung melon itu ke Disperindag atau ke kepolisian. Masih ada masyarakat yang ditemui KR mengaku takut melaporkannya, dengan anggapan jika melaporkan kepada polisi atau kepada Disperindag, merekalah yang menjadi sasaran dan terkena imbasnya.
“Buat apa melaporkan jika nantinya kita yang jadi imbasnya?” kata Herman, seorang warga Pekanbaru kepada KR.
“Karena kita perlu, mau tidak mau kita harus beli,” sebutnya ketika ditanya apakah ia tetap membeli walaupun harga gas tersebut mahal.
Selain Herman, Santi yang membuka warung makan di sebuah instansi mengatakan, daripada melaporkan ke polisi atau Disperindag yang menurutnya mungkin lebih banyak memakan biaya, lebih baik membelinya dengan harga mahal.”
“Karena memang kita sangat perlu gas itu untuk buka warung makan ini,” katanya.
Hal senada juga dikatakan Ismet. “Daripada kita ribut dengan uang seribu dua ribu lebih baik kita mengalah saja. Mau gimana lagi, kita juga memerlukan gas itu,” ungkapnya.
Menurut Ismet, pangkalan gas yang beroperasi kebanyakan menjual gasnya kepada pedagang atau pengecer, yang tujuannya menjual ulang gas itu lagi dengan harga lebih mahal. Hal itu mengakibatkan gas di pangkalan lebih cepat habis dan masyarakat pun beralih membelinya ke warung-warung dengan harga yang lebih mahal tentunya.
“Namun di balik itu kita harapkan subsidi gas elpiji 3 Kg ini agar tepat sasaran. Salah satunya dengan menjadikan perangkat RT/RW sebagai agen ataupun pangkalan gas, sehingga kecil kemungkinan adanya reseller setelah pangkalan ini,” harapnya.
Seorang pemilik warung di Kelurahan Sialang Mungu, Kecamatan Tampan yang biasanya mengecer elpiji tabung melon, kepada KR mengaku belakangan tidak lagi menjual. Kata pria yang dipanggil pelanggannya Ocu itu, pangkalan sekarang menjual lebih tinggi kepada mereka.
“Tidak, sekarang berhenti dulu jual gas. Modalnya saja sekarang tak dapat Rp25 ribu, mau saya jual berapa lagi nanti,” kata Ocu, ketika seorang pelanggan bertanya adakah gas di kedainya.
Ocu menyebut, dalam kondisi normal biasanya ia menjual gas itu Rp22 ribu atau Rp23 per tabung. Tapi ia tak mau menyebut berapa ia membelinya di pangkalan resmi, apakah tetap pada HET atau lebih tinggi dari itu.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.