Jika Tak Bayar, PLN akan Bongkar Listrik Aryaduta

0

PEKANBARU (KR) – Penyalahgunaan energi listrik yang dilakukan oleh Hotel Aryaduta Pekanbaru, Jalan Diponegoro, yang terjadi pada (07/09/2017) lalu sampai kemarin belum ada penyelesaiannya. Pihak Hotel masih melakukan penyelidikan terkait dugaan penyalahgunaan energi tersebut.
Dari pantauan KR di lapangan, sampai Rabu (13/09/2017) Hotel Aryaduta masih menggunakan generator berwarna kuning yang terletak di samping hotel.
Manager SDM PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR) Dwi Suryo dikonfirmasi terkait persoalan Hotel Aryaduta, menyampaikan, laporan dari Tim Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik bahwa mereka melakukan pelanggaran penyalahgunaan energi listrik. Untuk teknis pelanggarannya sendiri, Dwi mengaku tidak tahu.
“Dari laporan Tim P2TL dipastikan Hotel Aryadutaitu melanggar. Teknis pelanggarannya seperti apa silakan ditanyakan langsung kepada Tim P2TL. Pokoknya mereka melanggar,” ujar Dwi.
PLN WRKR, kata Dwi, masih menghargai proses yang saat ini sedang berjalan yakni penyelidikan terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh managemen Hotel Aryaduta. PLN memberikan tenggang waktu sampai 60 hari. Jika batas waktu yang diberikan tidak diindahkan maka PLN akan membongkar jaringan arus listrik di hotel tersebut.
“Kita bicara jual beli listrik tentunya dalam hal ini tidak ada yang dirugikan. Kalau ada yang dirugikan tentu kita stop dulu dengan cara melakukan pemutusan sementara kepada pelanggan. Pelanggan menyelesaikan kewajibannya, jika tidak maka kita bongkar,” terang Dwi.
Dijelaskan Dwi, Hotel Aryaduta menggunakan daya sebesar 1,1 Mega Watt (MW), untuk tagihan perbulannya tergantung dari penggunaan yang mereka lakukan. “Kalau untuk tagihan listrik Aryaduta perbulan selama ini saya tidak tahu pasti, namun saya pernah menghitung hotel di tempat lain yang menggunakan daya 1,1 MW seperti Novotel Solo, rata-rata perbulan mereka membayar tagihan listrik sebesar Rp600-Rp700 juta,” tutur Dwi.
Disambung Dwi, PLN WRKR akan memberikan dispensasi untuk pembayaran pelanggaran selama enam bulan, namun ketika mereka sanggup membayar satu bulan sekaligus tidak apa-apa juga.
Saat ditanya mengenai biaya yang dikeluarkan Hotel Aryaduta jika menggunakan mesin generator, Dwi menyampaikan bahwa biaya yang dikeluarkan mungkin lebih besar daripada menggunakan listrik PLN. “Untuk mesin genset yang irit bahan bakar saja sekarang, 1 Kwh yang mereka hasilkan untuk penggunaan tenaga listrik akan menghabiskan 0,3 liter solar per jam. Coba saja kalikan sendiri berapa Kwh yang mereka gunakan setiap harinya,” ucap Dwi.
“Sekarang tanya solarnya dapat dari mana, jangan-jangan nyuri,” ujar Dwi sambil tertawa.
Saat dilakukan konfirmasi terkait pemutusan listrik di hotelnya, managemen hotel terkesan irit bicara dan hanya memberikan konfirmasi melalui secarik kertas. “Bahwa managemen kami menghormati peraturan/prosedur yang berlaku di PLN setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim P2Tl beberapa waktu yang lalu. Walau terdapat permasalahan ditemukannya pada alat PLN yang ditempatkan di gedung kami, namun kami tetap menjunjung tinggi praduga tidak bersalah dan menuggu proses penyelidikan berjalan sesuai dengan peraturan dan peundang undangan berlaku.”
“Managemen memstikan bahwa hal ini tidak akan mengurangi kualitas pelayanan terhadap tamu yang menggunakan fasilitas hotel.”
Dari perhitungan KR berdasarkan rumus yang diberikan, jika Aryaduta menggunakan daya sebesar 500 kilowatts (kw)/jam x 0,3 liter maka solar yang diperlukan sebesar 150 liter . Jika dikali dengan harga solar industri Rp7.050 per liter maka biaya yang dikeluarkan Aryaduta sebesar Rp1.057.500 perjam. Dan jika dikalikan 1 hari penuh maka Aryaduta harus menyiapkan anggaran Rp25.380.000. MG24

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.